Sabtu, Juli 12, 2008

Pendidikan Al-Qur’an di Sumatera Barat; Antara Harapan dan Tantangan

Oleh: Muhammad Kosim LA

Masyarakat Sumatera Barat patut berbangga dengan lahirnya Peraturan Daerah Propinsi Sumatera Barat Nomor 3 Tahun 2007 tentang Pendidikan al-Qur’an. Dengan adanya Perda ini, filosofi ”Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS-SBK), Syarak Mangato Adat Mamakai” diharapkan dapat tercermin dalam sikap dan tingkah laku generasi yang akan datang. Tidak itu saja, tujuan pendidikan nasional yang menginginkan terwujudnya peserta didik yang beriman dan bertakwa serta berakhlakul mulia (UU Sisdiknas Tahun 2003 pasal 3) akan dapat tercapai.

Oleh karena itu, Perda tersebut langsung ditindaklanjuti oleh Dinas Pendidikan Propinsi Sumatera Barat dengan menyusun draf kurikulum Pendidikan al-Qur’an tingkat SD, SMP, SMA, dan SMK. Draf tersebut telah mulai disusun sejak bulan Nopember 2007 dan baru diseminarkan pada tanggal 4 hingga 6 April 2008. Seminar itu dihadiri oleh beberapa unsur, di antaranya: kepala sekolah, dinas pendidikan kota/kabupaten, Departemen Agama kota/kabupaten, MUI, dan LKAAM. Kemudian Draf tersebut telah selesai dirumuskan oleh tim sekitar bulan Juni lalu dan pada tahun pelajaran 2008/2009 ini akan dilaksanakan satu sekolah piloting pelaksana Kurikulum Pendidikan al-Qur'an tingkat SD, SMP, SMA dan SMK di setiap 19 kota/kabupaten yang ada di seluruh Sumatera Barat.

Masyarakat Sumatera Barat yang mayoritas muslim jelas akan mendukung kebijakan ini. Betapa tidak, budaya ”mangaji di Surau” yang mengakar di masyarakat pada masa lalu kerap kali dirindukan oleh generasi saat ini. Terlebih lagi ketika didorong oleh keimanan terhadap al-Qur’an sebagai pedoman dan kitab petunjuk bagi umat Islam. Firman-Nya: "Al-Qur'an ini adalah bukti-bukti yang nyata dari Tuhanmu, petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman." (Qs. Al-A’raf/7: 203).
Al-Qur’an tidak akan berfungsi jika tidak diamalkan. Untuk mengamalkan al-Qur’an tersebut perlu mempelajarinya. Proses mempelajari al-Qur’an itu akan efektif dilakukan melalui pendidikan yang terstruktur dan terencana. Disinilah perlunya pendidikan al-Qur’an, di mana dalam pendidikan tersebut akan dilakukan proses belajar mengajar dengan harapan peserta didik mampu memahami dan mengamalkan al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari sehingga kebahagiaan hakiki ia dapatkan baik di dunia maupun di akhirat. Pantaslah Rasulullah SAW menyebutkan: ”Sebaik-baik di antara kamu adalah orang yang mempelajari al-Qur’an dan mengamalkannnya”.
Namun untuk melaksanakan pendidikan al-Qur’an ini, terdapat beberapa tantangan. Pertama, status pendidikan al-Qur’an sebagai mata pelajaran muatan lokal. Dalam PERDA No. 3 Tahun 2007 tersebut dijelaskan bahwa pendidikan al-Qur’an termasuk ke dalam muatan lokal. Sementara dalam KTSP, muatan lokal hanya dapat dilaksanakan oleh pihak sekolah 2 hingga 4 jam pelajaran. Dalam Buku Saku KTSP untuk SMP yang diterbitkan oleh Dirjend. Manajemen Pendidikan Sekolah Dasar dan Menengah Tahun 2007 memang disebutkan bahwa alokasi waktu muatan lokal yang diizinkan minimal 2 jam pelajaran dan maksimal 6 jam pelajaran (hal. 14).

Namun kenyataannya, kebanyakan sekolah hanya menerapkan 2 hingga 4 jam. Sementara masing-masing sekolah pada umumnya telah memiliki mata pelajaran muatan lokal sesui dengan karakteristik sekolah dan daerah masing-masing. Akibatnya, kehadiran mata pelajaran Pendidikan Al-Qur’an akan menjadi persoalan baru, apakah muatan lokal yang telah ada dihapuskan? Jika tidak dihapuskan, mungkinkah akan menambah beban belajar peserta didik? Bisa jadi persoalan ini akan mengundang perdebatan dan penerapan pendidikan al-Qur’an mendapat sorotan.

Kedua, guru yang bertugas membimbing mata pelajaran pendidikan al-Qur’an. Pendidikan al-Qur’an bukan saja mengajarkan baca-tulis al-Qur’an, akan tetapi lebih dari itu, peserta didik akan dibimbing agar mampu membacanya dengan tartil, memahami arti dan kandungannya, menghafal beberapa surat dari Juz ‘Amma dan beberapa ayat pendek lainnya serta mampu mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Untuk itu, pendidikan al-Qur’an sejatinya lebih menekankan aspek apektif dan psikomotor peserta didik sehingga al-Qur’an bukan tinggal di “kepala” tetapi terintegrasi dalam kepribadiannya. Inilah tugas yang amat berat. Maka guru yang membimbing mata pelajaran ini mesti dipersiapkan secara profesional. Dari segi bacaan dan pemahaman kandungan al-Qur’an, yang paling tepat mengajarkannya adalah guru yang berasal dari dari Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur’an, seperti STAI-PIQ yang ada di Kota Padang. Namun, untuk mendidik siswa memiliki kepribadian yang Qur’any tentu menjadi tantangan tersendiri bagi guru yang kelak akan mengasuh mata pelajaran ini.
Ketiga, dukungan orang tua dan masyarakat. Meskipun pendidikan al-Qur’an diterapkan di sekolah sebagai lembaga pendidikan formal, akan tetapi pendidikan tersebut mesti didukung oleh orang tua dan masyarakat luas. Sebagaimana yang dijelaskan di atas, pendidikan al-Qur’an lebih menekankan kepada aspek pengamalan, bukan pengetahuan. Pengamalan tersebut tentunya tidak hanya di sekolah saja, tetapi di rumah dan masyarakat sekitar juga harus diamalkan. Maka peran orang tua sangat menentukan. Di rumah, misalnya, orang tua mesti memotivasi anaknya untuk menghidupkan rumah mereka dengan bacaan al-Qur’an. Demikian halnya di tengah-tengah masyarakat, penduduk setempat seyogiyanya mengawal akhlak generasi mudanya untuk berperilaku mulia. Dalam hal ini, pendekatan keteladanan sangat menentukan. Jika orang tua dan masyarakat tidak memperhatikannya, maka keberhasilan pendidikan al-Qur’an pun niscaya akan terhambat.
Menghadapi tantangan tersebut, perlu komitmen bersama dari berbagai pihak, terutama stakeholder pendidikan, agar pendidikan al-Qur’an dapat diterapkan dan menghasilkan sebagaimana yang diharapkan. Pihak pemerintah, terutama dinas pendidikan kota/kabupaten mesti mampu menjelaskan secara logis dan argumentatif kepada para kepala sekolah agar menerapkan kurikulum ini. Meski hanya muatan lokal, tetapi mata pelajaran ini bukanlah sebatas “pelengkap”, tetapi harus mampu “mewarnai” mata pelajaran yang lain. Sulitnya membentuk karakter (caracter building) yang mulia dan sesuai dengan nilai-nilai Islam perlu disadari oleh pihak sekolah sehingga muncul berbagai upaya untuk mencari solusinya. Mata pelajaran ini menjadi salah satu solusi untuk mengatasi persoalan tersebut.
Persoalan statusnya sebagai muatan lokal, perlu juga didiskusikan dengan cara bijak dan objektif. Jika pendidikan al-Qur’an dilaksanakan secara profesional dan didasari oleh motivasi iman, maka mata pelajaran ini bukan menjadi beban, malah kebutuhan yang amat menyenangkan. Untuk itu, mempersiapkan guru secara profesional harus dilakukan, baik melalui pembekalan berupa training atau workshop, maupun melengkapi sarana pendukung.

Oleh karena itu, baik pemerintah, pihak sekolah, orang tua, maupun masyarakat sekitar perlu membangun kesadaran atas dasar iman. Berbagai persoalan yang dihadapi dewasa ini tidak akan dapat diatasi kecuali berpegang teguh terhadap ajaran al-Qur’an. Lagi-lagi al-Qur’an bukan hanya hiasan lemari, kitab suci ketika acara pernikahan, atau kitab penawar hati ketika datang kematian, akan tetapi al-Qur’an adalah pedoman hidup yang tidak bisa ditawar bagi orang yang menginginkan keselamatan. Jika berbuat atas motivasi iman, berbagai tantangan akan dapat dihadapi dan harapan mewujudkan generasi Qur’any dapat tercapai, Insya Allah.

Zikir, Pikir, Mahir

6 komentar:

abdullahkhusairi mengatakan...

nama saya abdullah khusairi, bukan abdullah khusairy... thanks...

Muhammad Kosim LA mengatakan...

Sory bang, tidak ada unsur kesengajaan. sekali lagi mohon maaf yo bang Abdullah Khusairi...
Makasih bang...

Riwayat Attubani mengatakan...

ketika al-quran meninggalkan sekolah, maka kelas menjadi sepi dengn dzikir dan alunan Al-Quran.ketika sekolah tiada lagi pelajaran Al-quran dan diganti dengn koran maka jangan heran kalau banyak siswa keranjingan dengan budaya luar.

incek idir mengatakan...

Assalamu alaikum adinda Kosim,
teruslah berkarya semoga insan Kuala Bangka
dinegeri orang dapat membangun kampungnyo, iyo kan cek....

incek idir mengatakan...

Sim,
wak alang kirim salam,
aku mangakses blog incek ni
dari kampung kito le ni baya

Muhammad Kosim LA Kari Panduko mengatakan...

Sory cek, baru tabaco baya, sudah lamo tak ku tengok2 blog ni...
SUdah hebatnya kualo bangko io.... sudah masuk internet...
Mantap........