Selasa, Juli 01, 2008

Kenapa Umat Islam Terbelakang?

Oleh: Muhammad Kosim, LA

Kamu adalah sebaik-baik umat yang diketengahkan di antara sesame manusia, karena kamu menjalankan amar ma’ruf hahi mungkar dan kamu beriman kepada Allah.
(Ali Imran ayat 110)

Ayat di atas mengisyaratkan bahwa sebagai umat Nabi Muhammad SAW, kaum muslimin adalah umat yang terbaik. Umat terbaik yang dimaksud bukan saja karena keimanannya yang benar, tetapi—mestinya--terbaik juga dalam peradaban masyarakatnya. Namun, hingga saat ini umat Islam masih terbelakang jika dibandingkan dengan kemajuan Barat yang notabene-nya non-muslim. Indicator keterbelakangan tersebut dapat dilihat dari pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang begitu rendah di kalangan umat Islam.


Padahal, fakta sejarah mencatat bahwa pada awalnya Barat belajar kepada umat Islam. Ketika mereka mengalami masa kegelapan di awal abad pertengahan, umat Islam sedang berada pada masa kejayaannya, baik di Timur, seperti di Baghdad dan Damaskus; maupun di Barat, seperti di Spanyol, Sisilia dan sekitarnya. Ketika itu, orang-orang Barat tertarik dan meniru kebudayaan Arab yang notabene-nya adalah Muslim.


Di Sisilia misalnya, Rajanya, Roger II, terpengaruh dengan peradaban Islam. Buktinya pakaian kebesaran yang dipilihnya adalah pakaian Islam sehingga lawan politiknya menyebutnya sebagai "half heathen king" (raja setengah kafir). Gerejanya ia hiasi dengan ukiran dan tulisan Arab. Perempuan Kristen Sisilia meniru saudaranya muslimah dalam soal mode pakaian, mereka mengenakan Jilbab. Ketertarikan terhadap peradaban Islam zaman klasik itu bukan hanya dari orang-orang Eropa yang berada di daerah atau bekas daerah yang dikuasai Islam, melainkan juga dilakukan oleh orang-orang di Inggris, Perancis, Jerman dan Italia.


Kini, suasananya berbalik 180 derajat. Tidak sedikit di antara umat Islam justru meniru Barat. Jika yang dicontoh adalah semangat etos kerjanya, disiplin, atau pengembangan ilmu pengetahuan, tidak masalah!. Tetapi yang dicontoh kadang-kadang adalah budayanya yang bertentangan dengan ajaran Islam sendiri, seperti cara berpakaian, pergaulan bebas, gaya hidup materialistis, pragmatis, liberal, dan budaya negative lainnya.


Selain itu, negara-negara yang mayoritas muslim, seperti Indonesia dan beberapa Negara di Timur Tengah, cenderung berkiblat, bahkan mengalami ketergantungan dengan Barat dalam berbagai aspek kehidupan. Lebih ironis lagi, tatkala menyaksikan umat Islam yang tertekan dengan berbagai bentuk penderitaan di bawah bayang-bayang kekuasaan Barat—seperti nasib muslim di Palestina—sementara umat Islam hanya berpangku tangan, diam dan tidak mampu berbuat apa-apa.


Kenapa kondisi yang memilukan ini terus berlanjut? Kenapa umat Islam terbelakang? Akankah fenomena ini segera berakhir? Bukankah umat Islam disebut Allah sebagai umat terbaik?
Salah satu penyebab kenapa umat Islam terus berada pada posisi terbelakang dan tidak mampu mengungguli bangsa lain, atau paling tidak seimbang (balance of power), adalah karena umat Islam mengabaikan ayat-ayat Allah SWT. Secara garis besar, ayat-ayat tersebut ada dua, yaitu ayat-ayat qauliyah, yaitu al-Qur’an, dan ayat-ayat kauniyah, yaitu fenomena alam semesta.

Biasanya ayat-ayat qauliyah melahirkan berbagai disiplin ilmu pengetahuan, seperti tafsir, ilmu fiqh, ‘ulumul qur’an dan sebagainya yang selanjutnya masyarakat lebih mengenalnya dengan sebutan “ilmu agama”. Sedangkan ayat-ayat kauniyah akan melahirkan berbagai disiplin ilmu seperti sains, sosiologi, psikologi, dan sebagainya yang selanjutnya masyarakat sering menyebutnya dengan “ilmu umum”. PadahaL kedua istilah tersebut—ilmu umum dan agama—tidaklah tepat karena dapat menimbulkan dikotomi ilmu. Hal ini berangkat dari pemahaman akan sumber kedua bentuk ilmu tersebut, yaitu sama-sama berasal dari Allah SWT.


Seyogyanya kedua ayat tersebut dikaji dan dikembangkan secara seimbang, sehingga corak ilmu pengetahuan yang dikembangkan dan dihasilkan oleh umat Islam bersifat teo-antropocentris. Maksudnya ilmu pengetahuan yang dikembangkan tersebut mengandung nilai-nilai keilahiyahaan dan nilai-nilai kemanusiaan. Dengan demikian, ilmu tersebut membawa kemaslahatan bagi kehidupan manusia dan dalam keridhaan Allah SWT.

Kenyataannya, umat Islam tidak mampu mengembangkan salah satu di antaranya secara optimal. Al-Qur’an, misalnya, telah diakui sebagai kitab petunjuk dan penyelamat bagi umat Islam. Tetapi banyak di antara umat Islam tidak lagi menelaah kandungannya untuk diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. al-Qur’an kadang diperlakukan hanya sebagai hiasan lemari, diakui kesuciaannya tetapi kandungannya tidak menjadi pedoman hidup. Kadungannya yang sarat dengan ilmu pengtahuan tak mampu diangkat kepermukaan, sehinga al-Qur’an bagaikan mutiara yang terpendam di dasar lautan.


Banyak ayat-ayat al-Qur’an yang mengandung motivasi umat Islam agar maju dan berperadaban dengan pengembangan ilmu pengatahuan. Bahkan ayat yang pertama yang diturunkan oleh Allah, menyeru umat Islam agar membaca. (surat al-‘Alaq ayat 1-5). Membaca yang dimaksud tidak hanya ditujukan kepada ayat-ayat qauliyah (al-Qur’an) an sich, juga membaca ayat-ayat kauniyah (alam). Artinya, ayat-ayat qauliyah turut mendorong manusia untuk membaca dan menelaah ayat-ayat kauniyah. Sebaliknya, ayat-ayat kauniyah juga mendorong manusia untuk merenungkan ayat-ayat qauliyah. Sebab ketika kita menyaksikan berbagai fenomena alam, dengan sendirinya muncul kesadaran bahwa apa yang disaksikan merupakan sebagian kecil dari bukti kekuasaan Allah SWT. Semua apa yang disaksikan di alam raya ini adalah ciptaan dan dalam pengawasan serta pemeliharaan Allah SWT.


Untuk itu, antara kedua bentuk ayat tersebut jelas merupakan sesuatu yang padu, karena keduanya bersumber dari Allah semata. Paradigma seperti ini selanjutnya melahirkan apa yang disebut dengan konsep “Tauhid Ilmu”.


Selanjutnya, dalam kajian ayat-ayat kauniyah, umat Islam juga tidak mampu berbuat sebagaimana yang diharapkan. Kajian dalam bentuk ayat ini justru lebih banyak dikembangkan oleh bangsa Barat. Bahkan berbagai kemajuan yang mereka peroleh hari ini adalah sebagai hasil kajian mereka terhadap ayat-ayat kauniyah tersebut. Sayangnya, mereka mengabaikan ayat-ayat qauliyah, sehingga ilmu yang mereka kembangkan cenderung bersifat antropocentris, hanya mengandalkan aspek kemampuan manusia saja, maka ilmu itu pun bercorak sekuler-dikotomis. Tidak mengherankan jika ilmu yang berkembang di Barat tidak menjamin kemaslahatan umat. Mereka mengalami kehampaan spiritual sehingga nilai-nilai yang bersifat etis pun kerap kali diabaikan. Akhirnya di antara mereka tumbuh dan berkembang sebagai makhluk “setengah manusia”, karena telah kehilangan dimensi ruhaniyahnya.


Dari paparan di atas, dapat dipahami bahwa selagi umat Islam tidak mampu mengkaji dan mengembangkan kedua bentuk ayat di atas, maka bisa dipastikan umat Islam akan terus terbelakang. Untuk membenahi problema ini, peningkatan kualitas pendidikan mutlak diperlukan. Artinya, pendidikan mesti ditingkatkan dengan membekali peserta didik dengan seperangkat kurikulum yang mampu mengantarkan mereka kepada pengkajian dan pengembangan ilmu pengetahuan yang bersumber dari ayat-ayat qauliyah dan kauniyah secara integral.


Dalam kondisi saat ini, peluang untuk mengembangkan sekolah seperti itu tentulah besar, mengingat system pengelolaan yang bersifat desentralisasi. Sekolah, baik negeri dan swasta, yang nota bene-nya umat Islam di dalamnya, diharapkan berani mengambil kebijakan dalam menciptakan suasana lingkungan belajar yang memungkinkan para peserta didik untuk mampu mempelajari, membaca, dan memahami ayat-ayat qauliyah dan ayat-ayat kauniyah.

Masyarakat, terutama orang tua, juga dituntut kesadarannya untuk membimbing anak-anaknya agar memilih sekolah yang mampu menawarkan paradigma di atas. Jangan tanamkan kepada anak bahwa kemajuan akan diperoleh hanya dengan mengkaji ayat-ayat kauniyah sebagaimana yang dilakukan oleh bangsa Barat. Tetapi tanamkanlah bahwa kemajuan yang hakiki lagi sempurna akan diperoleh manakala ayat-ayat-Nya dikaji dan diamalkan. Paling tidak, jika salah satu dari kedua bentuk ayat di atas ingin dikembangkan sebagai bentuk dari spesifikasi ilmu, tetapi ayat tersebut tidak diabaikan atau dipisahkan dari bentuk ayat yang lainnya. Jika hal itu dapat direalisasikan, maka akan lahir ilmuan yang ulama atau ulama yang ilmuan. Misalnya, meskipun spesifikasinya kepada sains, tetapi dia adalah saintis yang beriman. Sebaliknya, jika dia ulama, tetapi tidak gagap sanis dan teknologi. Jika demikian, umat Islam tidak akan terbelakang, melainkan akan tetap terdepan. Insya Allah…!

1 komentar:

Amy Franzzy mengatakan...

Terima kasih postingannya karna sangat membantu dalam tugas kuliah serta secara tidak langsung juga kritikan buat buat umat muslimin agar bisa bersaing lagi dalam ilmu pengetahuan