Senin, Desember 29, 2025

Bencana Alam dan Bencana Moral

oleh Muhammad Kosim

Ketika Allah Swt hendak menjadikan manusia (Nabi Adam as) sebagai khalifah di muka bumi, para malaikat sempat “mempertanyakan”. Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan di sana orang yang akan membuat kerusakan dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih memuji-Mu dan menyucikan-Mu?” (QS. al-Baqarah: 30).

Tampaknya malaikat memiliki pembacaan tajam tentang hakikat manusia: diciptakan dari tanah, diberi ruh dan jasad; dibekali akal, namun juga memiliki nafsu. Manusia bisa menjadi pemakmur bumi, tetapi juga berpotensi menjadi perusaknya.

Allah Swt menjawab keraguan itu dengan pembuktian. Adam as diajari al-asma’ (nama-nama), lalu diminta menjelaskannya. Adam as mampu menyebutkan dan memahami, sedangkan para malaikat tidak mengetahuinya karena memang tidak ditakdirkan memiliki ilmu tersebut (QS. al-Baqarah: 31–33). Dengan bekal ilmu itu, Adam as dinyatakan layak memikul amanah kekhalifahan. Bahkan malaikat diperintahkan bersujud kepadanya—kecuali Iblis yang menolak karena sombong.

Kisah ini menegaskan pesan penting: manusia layak menjadi khalifah selama ia berilmu. Namun ketika manusia hidup tanpa ilmu atau mengabaikan ilmu dalam keputusan-keputusannya, kekhawatiran malaikat bisa menjadi kenyataan: kerusakan merajalela, darah tertumpah, dan bencana demi bencana lahir dari tangan manusia sendiri.

Ilmu yang dimaksud tentu bukan sekadar keterampilan teknis atau gelar akademik. Yang dibutuhkan adalah al-ilm al-nafi’, ilmu yang bermanfaat, itulah ilmu yang berbasis tauhid. Ilmu yang menumbuhkan kesadaran bahwa manusia bertanggung jawab kepada Allah Swt, berakhlak kepada sesama, dan arif terhadap alam semesta. Semakin berilmu seseorang seharusnya semakin dekat kepada Allah Swt, semakin peduli kepada manusia, dan semakin bijak memperlakukan alam.

Di penghujung 2025, ketika bencana alam melanda Sumatera, kita kembali diingatkan: hubungan manusia dengan lingkungan bukan perkara sepele. Mengelola alam menuntut manusia agar memiliki ilmu dan bersikap amanah. Hutan mana yang boleh dibuka dan mana yang wajib dilindungi; bagaimana reboisasi dilakukan dengan benar; pohon apa yang layak ditebang dan kapan waktunya; bagaimana tata kelola kota dan permukiman agar aman dari banjir dan longsor. Semua itu tidak boleh diserahkan pada keserakahan nafsu, tetapi harus ditopang ilmu dan tanggung jawab moral.

Namun, ilmu saja tidak cukup bila tidak diamalkan. Apa arti seorang sarjana kehutanan, akademisi, atau praktisi lingkungan, jika ilmunya tidak digunakan untuk merawat bumi? Atau mengaku beriman tetapi tidak beramal shaleh: menyebar kebaikan bagi alam semesta?. Saat ilmu berhenti di kepala dan tidak turun ke tangan, nafsu kembali mengambil alih. Dan ketika nafsu berkuasa, kerusakan di muka bumi menjadi keniscayaan.

Di tengah duka bencana alam, kita patut berdoa agar saudara-saudara kita yang wafat diberi pahala syahid, diampuni dosa-dosanya, dan ditempatkan di taman-taman surga-Nya. Kepada mereka yang kehilangan keluarga, rumah, dan mata pencaharian, kita perlu membuktikan empati dan solidaritas sosial sebagai bukti bahwa nurani kekhalifahan belum mati. Ini ujian bersama: ujian bagi korban agar tetap tabah, dan ujian bagi yang selamat agar mau berbagi dan menolong.

Sayangnya, pada saat bencana alam menampar kesadaran kita, publik justru dikejutkan oleh kabar tertangkapnya oknum guru yang diduga melakukan hubungan sejenis dengan mantan murid di toilet salah satu masjid di Kota Padang. Ini jelas bencana moral. Bencana yang terjadi di ruang pendidikan, tempat seharusnya nilai dan akhlak ditanamkan. Peristiwa ini boleh jadi hanya puncak gunung es dari krisis moral yang lebih dalam.

Belum lagi fenomena politik yang terus memprihatinkan. Kasus korupsi seperti tidak pernah selesai. Kepala daerah tertangkap tangan KPK tampaknya tidak membuat jera. Ironisnya, sebagian masyarakat mulai “memaklumi”. Ada mantan pidana yang kembali terpilih menjadi wakil rakyat atau pejabat, begitu juga keluarganya tetap mendapat suara rakyat.

Korupsi kerap dianggap “wajar” karena ongkos politik mahal. Jika hanya mengandalkan gaji resmi, modal tak kembali. Maka jabatan pun diperlakukan seperti investasi—dan negara menjadi ladang balik modal. Lebih celakanya lagi, para pembuat aturan seakan membiarkan demokrasi komersial ini terus berjalan. Mahar politik tak lagi tabu diperlihatkan, padahal semua orang mengakui dampaknya. Bukankah ini bencana moral: transaksi kekuasaan dipertontonkan secara vulgar? 

Sungguh, bencana moral tidak kalah berbahaya dari bencana alam. Bahkan, bencana moral sering menjadi pemicu datangnya bencana yang lebih besar. Allah Swt mengingatkan, “Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak hanya menimpa orang-orang zalim saja di antara kamu.” (QS. al-Anfal: 25). 

Dalam tafsir al-Munir, Syekh Wahbah Zuhaili menjelaskan, “waspadailah sebuah fitnah yang apabila menimpa kalian, ia tidak menimpa orang-orang yang zalim semata, tetapi ia akan menimpa kalian semua dan ia akan sampai kepada orang yang saleh dan yang tidak saleh”. Nabi SAW bersabda:  "Tidaklah suatu kaum mengerjakan maksiat sementara di antara mereka ada orang yang lebih mulia dari mereka dan memiliki kekuatan tapi ia tidak mengubahnya, melainkan Allah akan timpakan siksaan pada mereka secara rata." (HARI Imam Ahmad dan Abu Dawud).

Karena itu, introspeksi diri adalah keharusan. Kita perlu kembali membangun peradaban dengan ilmu berbasis tauhid: ilmu yang menundukkan nafsu dan melahirkan akhlak. Sebab ketika nafsu menguasai manusia, kerusakan akan lahir dalam dua wajah sekaligus: kerusakan alam dan kerusakan moral. Dan di situlah amanah kekhalifahan kehilangan maknanya.

Ke depan, upaya preventif harus dilakukan agar bencana alam dan bencana moral dapat dihindari. Dua jalur paling menentukan adalah politik dan pendidikan. Politisi semestinya menjadi pejuang kebenaran, berjihad menegakkan politik berbasis teo-antropocentris: nilai tauhid yang berdampak positif bagi kemanusiaan dan alam semesta.

Demikian halnya pendidikan sebagai mesin rekayasa peradaban. Di sanalah akhlak mulia disemai agar bencana moral dicegah, dan kesadaran ekologis ditanamkan agar bencana alam diantisipasi. Pendidikan harus holistik—mulai dari keluarga, sekolah, hingga masyarakat—dengan dukungan nyata dari pemerintah sebagai pengambil kebijakan. Sekali lagi, pendidikan berbasis tauhid wajib dihidupkan oleh setiap umat beriman. 

Semua pihak mesti berkontribusi untuk mencegah bencana moral dan bencana alam. Utamanya politisi dan praktisi pendidikan, jika masih mengabaikan pesan Ilahi, hanya berorientasi materi serta kepentingan pribadi dan kelompok, maka bencana demi bencana akan terus menghampiri negeri ini. Wallahu al-musta’an.

Baco Tokhus....

Rabu, Juni 13, 2018

Khutbah Idul Fitri 2018

Puasa, Neraka dan Surga

Oleh: Dr. Muhammad Kosim, MA

فَأَمَّا مَن طَغَى. وَآثَرَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا. فَإِنَّ الْجَحِيمَ هِيَ الْمَأْوَى. وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى. فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى
37. Adapun orang yang melampaui batas, 38. dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, 39. Maka Sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya). 40. dan Adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, 41. Maka Sesungguhnya syurgalah tempat tinggal(nya). (Qs. An-Naziat: 37-41)

PENGHUNI NERAKA
1.      Melampaui Batas
-          Makna Thagha:
-          Mujahid dalam Tafsir al Thabari  mengartikan kata thagha sebagai ‘Asha (bermaksiat),
-          Al-Syaukani: Jawaza al-hadd fi al-kufr wa al-ma’ashi (melampaui batas dalam kekufuran dan kemaksiatan),
-          Ibn Katsir: Tamarrada wa’ata (membangkang dan melampaui batas),
-          al-Maraghi: takabur (bersikap sombong).
-          Sudah menjadi sunnatullah, semua yang tercipta di alam ini memiliki aturan tersendiri sesuai dengan peran dan fungsinya masing-masing. Bumi perputar pada porosnya (rotasi) lalu mengitari matahari (evolusi) secara taratur pada garis edarnya.
-          Begitu pula manusia, diciptakan sebagai hamba Allah (‘abdullah) memiliki aturan-aturan yang telah ditetapkan dalam ajaran Islam. Jika seseorang keluar dari aturan yang telah ditetapkan, maka ia menjadi orang yang melampaui batas.
1)      Melampaui batas terhadap aturan-aturan Allah. Manusia ditetapkan untuk menyembah Allah, tetapi ada yang durhaka; rezekinya di makan tetapi kufur akan nikmatnya, shalat bermalas-malasan, mencari rezeki dengan cara haram: korupsi, menipu, curang dalam timbangan, begitu pula di siang Ramadhan mereka makan dan minum tanpa ada yang menyebabkannya boleh untuk tidak berpuasa secara syarak; memiliki harta tetapi enggan berzakat, semua ini perilaku THAGHA.
2)      Melampaui batas terhadap hubungan sesama manusia.
-          Sesama saudara kandung yang sejak kecil bersama menjadi bermusuhan dan tak saling tegur sapa hanya karena berbeda pendapat, berbedap penghasilan, berbeda nasib peruntungan
لَا يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلَاثِ لَيَالٍ يَلْتَقِيَانِ, فَيُعْرِضُ هَذَا, وَيُعْرِضُ هَذَا, وَخَيْرُهُمَا اَلَّذِي يَبْدَأُ بِالسَّلَامِ
-          "Tidak halal bagi muslim memutuskan persahabatan dengan saudaranya lebih dari tiga malam. Mereka bertemu, lalu seorang berpaling dan lainnya juga berpaling. Yang paling baik di antara keduanya ialah memulai mengucapkan salam. Muttafaq ‘Alaihi.
-          Sejatinya setiap mukmin menciptakan rasa aman bagi orang sekitarnya, setiap muslim mewujudkan hal-hal yang mendatangkan keselamatan bagi sekelilingnya, bukan justru melampaui batas dengan menzalimi orang lain sehingga mereka terancam akibat kehadirannya.
-          Seorang pemimpin dituntut adil dan amanah, tetapi ia khianat dengan memperkaya diri dan/atau orang lain, seperti korupsi, menipu, merakayasa hukum dan sebagainya, mereka pun termasuk orang yang melampaui batas.
-          Seorang suami bertanggungjawab menafkahi istri dan anak-anaknya dengan cara yang halal. Seorang istri tak boleh durhaka pada suaminya selagi tidak bertentangan dengan ketaatan kepada Allah.
لاَ يَنْظُرُ اللهُ إِلَى امْرَأَةٍ لاَ تَشْكُرُ لِزَوْجِهَا وَهِيَ لاَ تَسْتَغْنِيْ عَنْهُ
-          “Allah tidak akan melihat seorang istri yang tidak mauberterimakasih atas kebaikan suaminya padahal ia selalu butuh kepada suaminya” . [HR. An-Nasa'i)
لَوْ كُنْتُ آمُرًا أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ لأَحَدٍ لأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا
-          "Sekiranya aku memerintahkan seseorang untuk sujud kepada lainnya, niscaya akan kuperintahkan seorang istri sujud kepada suaminya" .[HR. At-Tirmidziy dalam As-Sunan (1159), dan lainnya. Hadits ini di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Al-Irwa' (1998)]
-          Orang tua yang dianugerahi anak seharusnya mendidik anak-anaknya agar menajadi shaleh dan tuntuk kepada Allah. Namun jika tidak peduli terhadap pendidikan dan perkembangan ruhani anak-anaknya, orang tua itu telah melampaui batas.
-          Sebaliknya, seorang anak tak boleh durhakan kepada kedua orang tuanya dan kedua mertuanya. Jika orang tua sudah dianggap beban, orang tua disakiti dengan lidah dan perbuatan, orang tua sampai meratap akibat buruknya perilaku seorang anak, maka akan itu juga sudah melampaui batas.
-          Janganlah membuat orang tua merintih dan meratap akibat buruknya perilaku kita kepada mereka.


Renungkanlah pernyataan Imam Adz-Dzahabi dalam kitabnya Al-Kabaair berikut ini:
-          Ibumu telah mengandungmu di dalam perutnya selama sembilan bulan, seolah-olah sembilan tahun.
-          Dia bersusah payah ketika melahirkanmu yang hampir saja menghilangkan nyawanya.
-          Dia telah menyusuimu dari putingnya, dan ia hilangkan rasa kantuknya karena menjagamu.
-          Dia cuci kotoranmu dengan tangan kirinya, dia lebih utamakan dirimu dari padadirinya serta makanannya.
-          Dia jadikan pangkuannya sebagai ayunan bagimu.
-          Dia telah memberikanmu semua kebaikan dan apabila kamu sakit atau mengeluh tampak darinya kesusahan yang luar biasa dan panjang sekali kesedihannya dan dia keluarkan harta untuk membayar dokter yang mengobatimu.
-          Seandainya dipilih antara hidupmu dan kematiannya, maka dia akan meminta supaya kamu hidup dengan suaranya yang paling keras.
-          Betapa banyak kebaikan ibu, sedangkan engkau balas dengan akhlak yang tidak baik.
-          Dia selalu mendo’akanmu dengan taufik, baik secara sembunyi maupun terang-terangan.
-          Tatkala ibumu membutuhkanmu di saat dia sudah tua renta, engkau jadikan dia sebagai barang yang tidak berharga di sisimu.
-          Engkau kenyang dalam keadaan dia lapar.
-          Engkau puas minum dalam keadaan dia kehausan.
-          Engkau mendahulukan berbuat baik kepada istri dan anakmu dari pada ibumu.
-          Engkau lupakan semua kebaikan yang pernah dia perbuat.
-          Berat rasanya atasmu memeliharanya padahal itu adalah urusan yang mudah.
-          Engkau kira ibumu ada di sisimu umurnya panjang padahal umurnya pendek.
-          Engkau tinggalkan padahal dia tidak punya penolong selainmu.
-          Padahal Allah telah melarangmu berkata ‘ah’ dan Allah telah mencelamu dengan celaan yang lembut.
-          Engkau akan disiksa di dunia dengan durhakanya anak-anakmu kepadamu.
-          Allah akan membalas di akhirat dengan dijauhkan dari Allah Rabbul ‘aalamin.
-          (Akan dikatakan kepadanya),
ذَلِكَ بِمَا قَدَّمَتْ يَدَاكَ وَأَنَّ اللَّهَ لَيْسَ بِظَلَّامٍ لِّلْعَبِيدِ
-          “Yang demikian itu, adalah disebabkan perbuatan yang dikerjakan oleh kedua tangan kamu dahulu dan sesungguhnya Allah sekali-kali bukanlah penganiaya hamba-hamba-Nya”. (QS. Al-Hajj : 10)---(Al-Kabaair hal. 53-54, Maktabatush Shoffa, Dar Albaian).
-       بِرُّوا آبَاءَكُمْ يُبِرُّكُمْ أَبْنَاؤُكُمْ
-          Patuhilah orang tua kalian, maka kelak kalian akan ditaati oleh anak kalian.(Tuhaf Al-‘Uqul : 267)
-          Sosok manusia yang melampaui batas itu terhimpun pada pribadi Fir’aun, seperti perintah Allah pada Nabi Musa as:
اذْهَبْ إِلَى فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَى
-          Pergilah kamu kepada Fir'aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas (thagha). (QS. An Nazi’at (79): 17).
2.      Mencintai Dunia.
-          Ahli neraka adalah orang yang mengedepankan kehidupan dunia di atas kepentingan akhirat. Padahal Allah SWT mengingatkan bahwa dunia adalah:
اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرّاً ثُمَّ يَكُونُ حُطَاماً وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِّنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ
Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu; (al-Hadid/57: 20)
-          Orang yang mementingkan kehidupan dunia akan sibuk mengumpulkan harta seakan harta tersebut mengekalkan kehidupannya di dunia ini (Qs. Al-Humazah/104: 2-3).
-          Kekayaan, jabatan dan berbagai kenikmatan dunia mereka rebut dengan menghalalkan segala cara. Maka pertikaian dan permusuhan kerap kali terjadi di tengah-tangah masyarakat.
-          Orang-orang seperti ini menjadi penghuni neraka. Boleh jadi mereka memperoleh kenikmatan dunia, bahkan semakin ia ingkar bertambah sukses pula hidupnya di dunia, namun kehidupan mereka di akhirat kelak pasti sengsara dalam api neraka. Firman-Nya:
فَلَمَّا نَسُواْ مَا ذُكِّرُواْ بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُواْ بِمَا أُوتُواْ أَخَذْنَاهُم بَغْتَةً فَإِذَا هُم مُّبْلِسُونَ
-          Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa (Qs. Al-An’am/6: 44)
-          Ketika dunia telah memperdaya, maka amal seseorang tak kan banyak, ketika ajar menjemputnya ia akan dilemparkan ke neraka, lalu datanglah penyesalan yang tak berguna seraya berharap dengan pekikan:
رَبَّنَا أَبْصَرْنَا وَسَمِعْنَا فَارْجِعْنَا نَعْمَلْ صَالِحاً إِنَّا مُوقِنُونَ
"Ya Tuhan kami, kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikanlah kami (ke dunia), kami akan mengerjakan amal saleh, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang yakin" (Qs. as-Sajadah/32: 12).

-          Kelak di neraka, mereka yang tertipu dengan kehidupan duniawi akan meminta tolong kepada penghuni surga agar diberikan sedikit minuman dan makanan yang berlimpah di surga. Namun apalah daya...
وَنَادَى أَصْحَابُ النَّارِ أَصْحَابَ الْجَنَّةِ أَنْ أَفِيضُواْ عَلَيْنَا مِنَ الْمَاء أَوْ مِمَّا رَزَقَكُمُ اللّهُ قَالُواْ إِنَّ اللّهَ حَرَّمَهُمَا عَلَى الْكَافِرِينَ. الَّذِينَ اتَّخَذُواْ دِينَهُمْ لَهْواً وَلَعِباً وَغَرَّتْهُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا فَالْيَوْمَ نَنسَاهُمْ كَمَا نَسُواْ لِقَاء يَوْمِهِمْ هَـذَا وَمَا كَانُواْ بِآيَاتِنَا يَجْحَدُونَ
50. dan penghuni neraka menyeru penghuni syurga: " Limpahkanlah kepada Kami sedikit air atau makanan yang telah dirizkikan Allah kepadamu". mereka (penghuni surga) menjawab: "Sesungguhnya Allah telah mengharamkan keduanya itu atas orang-orang kafir, 51. (yaitu) orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai main-main dan senda gurau, dan kehidupan dunia telah menipu mereka." Maka pada hari (kiamat) ini, Kami melupakan mereka sebagaimana mereka melupakan Pertemuan mereka dengan hari ini, dan (sebagaimana) mereka selalu mengingkari ayat-ayat kami (al-A’raf/7: 50-51).

-          Bagi orang yang beriman dan bertakwa kepada Allah SWT, dunia berada di dalam genggamannya, bukan di dalam hatinya. Mereka memetik kehidupan dunia hanya semata-mata untuk menuai hasilnya kelak di akhirat.
-          Orang yang THAGHA dan MENGUTAMAKAN DUNIA, tak ada tempat yang layak dan pantas bagi mereka kecuali NERAKA.
فَإِنَّ الْجَحِيمَ هِيَ الْمَأْوَى.
Maka Sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya). (Qs. An-Naziat: 37-41)

PENGHUNI SURGA
1.      Takut pada Kekuasaan Allah.
-           Khauf mengantarkan pada takwa dan merasakan Allah senantiasa hadir dalam setiap keadaan.
-          Rasa takut kepada Allah muncul dari rasa khawatir jika Allah tidak menerima amal ibadah yang tidak ia lakukan. Ia juga takut akan adzab Allah karena dosa kesalahannya yang tidak diampuni sehingga mengantarkannya menjadi ahli neraka. Dengan begitu tak akan muncul rasa sombong dan riya bagi seorang yang rajin beribadah, tak pula ada rasa nyaman dalam melakukan maksiat.
-          Rasa takut itu memicu dan memotivasi dirinya untuk mendekat kepada Allah SWT, sungguh-sungguh dan larut dalam kekhusyukan saat beribadah, lalu menjauhi diri dari perbuatan maksiat.
2.      mengendalikan hawa nafsu.
Jika nafsu tak terkendala, maka firman-Nya:
وَلَوِ اتَّبَعَ الْحَقُّ أَهْوَاءهُمْ لَفَسَدَتِ السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ وَمَن فِيهِنَّ بَلْ أَتَيْنَاهُم بِذِكْرِهِمْ فَهُمْ عَن ذِكْرِهِم مُّعْرِضُونَ
“Andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya. Sebenarnya Kami telah mendatangkan kepada mereka kebanggaan (Al Qur'an) mereka tetapi mereka berpaling dari kebanggaan itu.” (QS. Al Mu'minuun (23):71)
Rif’at Sauqi an-Nawawi, Guru Besar Ilmu Tafsir UIN Syahid Jakarta, menyebut makhluk tertinggi adalah al-insan, lalu malaikat, al-hayawanat, an-nabatat dan al-jamadat.
Namun jika kita menelusuri ayat-ayat Alquran, jika manusia tak mampu mengendalikan hawa nafsunya, ia bisa menjadi hewan, tumbuhan bahkan benda mati.
Hewan:
1.      manusia an’am (seperti binatang ternak), yaitu mereka yang tidak memanfaatkan hati, mata, dan telinganya untuk mengenal tanda-tanda kekuasaan Allah.

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيراً مِّنَ الْجِنِّ وَالإِنسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لاَّ يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لاَّ يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لاَّ يَسْمَعُونَ بِهَا أُوْلَـئِكَ كَالأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُوْلَـئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ
dan Sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. mereka Itulah orang-orang yang lalai. (QS al-A’raaf/179).

2.      Manusia yang memperturutkan hawa nafsunya dan mendustakan ayat-ayat Allah disebut sebagai manusia kalb, yaitu seperti anjing
وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنَاهُ بِهَا وَلَـكِنَّهُ أَخْلَدَ إِلَى الأَرْضِ وَاتَّبَعَ هَوَاهُ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ الْكَلْبِ إِن تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ أَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَث ذَّلِكَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُواْ بِآيَاتِنَا فَاقْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ
dan kalau Kami menghendaki, Sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi Dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, Maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya Dia mengulurkan lidahnya (juga). demikian Itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat kami. Maka Ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir. (QS al-A’raaf/7:  176).
3.      Qird (kera)
4.      Khinzir (babi). Mereka yang fasik, mengetahui tetapi tidak berperilaku seperti apa yang diketahuinya
قُلْ هَلْ أُنَبِّئُكُم بِشَرٍّ مِّن ذَلِكَ مَثُوبَةً عِندَ اللّهِ مَن لَّعَنَهُ اللّهُ وَغَضِبَ عَلَيْهِ وَجَعَلَ مِنْهُمُ الْقِرَدَةَ وَالْخَنَازِيرَ وَعَبَدَ الطَّاغُوتَ أُوْلَـئِكَ شَرٌّ مَّكَاناً وَأَضَلُّ عَن سَوَاء السَّبِيلِ
60. Katakanlah: "Apakah akan aku beritakan kepadamu tentang orang-orang yang lebih buruk pembalasannya dari (orang-orang fasik) itu disisi Allah, Yaitu orang-orang yang dikutuki dan dimurkai Allah, di antara mereka (ada) yang dijadikan kera dan babi dan (orang yang) menyembah thaghut?". mereka itu lebih buruk tempatnya dan lebih tersesat dari jalan yang lurus. (QS al-Maidah/5: 60).

5.      Ankabut (laba-laba): Manusia yang angkuh, merasakan kelebihan yang ia miliki semata-mata hasil kinerjanya atau ia bergantung dan berlindung kepada selain Allah
مَثَلُ الَّذِينَ اتَّخَذُوا مِن دُونِ اللَّهِ أَوْلِيَاء كَمَثَلِ الْعَنكَبُوتِ اتَّخَذَتْ بَيْتاً وَإِنَّ أَوْهَنَ الْبُيُوتِ لَبَيْتُ الْعَنكَبُوتِ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ
41. perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. dan Sesungguhnya rumah yang paling lemah adalah rumah laba-laba kalau mereka mengetahui. (QS al-Ankabut/29: 41). 
6.      Himar (keledai), Manusia yang diberi petunjuk berupa kitab Alquran, tetapi tidak dijadikannya sebagai pedoman hidup sehingga kita tersebut tidak memberi efek positif baginya.

مَثَلُ الَّذِينَ حُمِّلُوا التَّوْرَاةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوهَا كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَاراً بِئْسَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِ اللَّهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ
5. perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat, kemudian mereka tiada memikulnya[1474] adalah seperti keledai yang membawa Kitab-Kitab yang tebal. Amatlah buruknya perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang zalim. (QS al-Jumu’ah/62: 5).

Tumbuhan:
Ada pula manusia seperti kayu yang tersandar (khasyb musannadah) yang lebih mengedepankan penampilan, keelokan tubuh, dan kemewahan dunia tetapi ruhani dan otaknya kosong dari kebenaran, hanya pandai berbicara dan bersilat lidah.



وَإِذَا رَأَيْتَهُمْ تُعْجِبُكَ أَجْسَامُهُمْ وَإِن يَقُولُوا تَسْمَعْ لِقَوْلِهِمْ كَأَنَّهُمْ خُشُبٌ مُّسَنَّدَةٌ يَحْسَبُونَ كُلَّ صَيْحَةٍ عَلَيْهِمْ هُمُ الْعَدُوُّ فَاحْذَرْهُمْ قَاتَلَهُمُ اللَّهُ أَنَّى يُؤْفَكُونَ
4. dan apabila kamu melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu kagum. dan jika mereka berkata kamu mendengarkan Perkataan mereka. mereka adalah seakan-akan kayu yang tersandar mereka mengira bahwa tiap-tiap teriakan yang keras ditujukan kepada mereka. mereka Itulah musuh (yang sebenarnya) Maka waspadalah terhadap mereka; semoga Allah membinasakan mereka. Bagaimanakah mereka sampai dipalingkan (dari kebenaran)? (QS al-Munafiqun/63: 4).

Batu Hitam
7.       Hijarah (batu): Manusia yang menolak dinasehati dan tidak menerima kebenaran Ilahi, hatinya keras.
ثُمَّ قَسَتْ قُلُوبُكُم مِّن بَعْدِ ذَلِكَ فَهِيَ كَالْحِجَارَةِ أَوْ أَشَدُّ قَسْوَةً وَإِنَّ مِنَ الْحِجَارَةِ لَمَا يَتَفَجَّرُ مِنْهُ الأَنْهَارُ وَإِنَّ مِنْهَا لَمَا يَشَّقَّقُ فَيَخْرُجُ مِنْهُ الْمَاء وَإِنَّ مِنْهَا لَمَا يَهْبِطُ مِنْ خَشْيَةِ اللّهِ وَمَا اللّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ

74. kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal diantara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai dari padanya dan diantaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air dari padanya dan diantaranya sungguh ada yang meluncur jatuh, karena takut kepada Allah. dan Allah sekali-sekali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan. (QS al-Baqarah/2: 74).

Jika khauf tertanam dalam hati, hawa nafsu dapat terkendalikan, maka:
فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى
Maka sesungguhnya syurgalah tempat tinggal(nya). (Qs. An-Naziat: 37-41)

Ramadhan hadir untuk menuntun kita menjadi ahli surga dan terhindar dari neraka.
-          Kita melaksanakan berbagai ibadah sunat agar kita tetap pada hukum-hukum Allah, tidak menjadi orang yang melampaui batas
-          Jangankan yang haram, yang halal pun berupa makanan, minuman dan istri/suami yang halal untuk kita, selama puasa tidak boleh untuk menikmatinya. Ini dilakukan agar kita mengutamakan akhirat dari pada dunia.
-          Kita tetap jujur berpuasa, mesti kita bisa sembunyi dari banyak orang untuk makan dan minum, tapi kita takut pada Allah yang selalu mengawasi dan mengetahui setiap perbuatan kita.
-          Puasa juga hadir untuk melatih jiwa atau nafsu agar dapat terkendali.
Hamka berkata: Puasa mengendalikan nafsu perut dan kemaluan; dua sumber syahwat yang banyak membinasakan manusia kepada kesesatan.
جَعَلَنَا اللهُ وَإِيَّاكُمْ مِنَ الْعَائِدِيْنَ الْفَائِزِيْنَ، وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ
Semoga Allah SWT menjadikan kita semua sebagai hamba-hamba-Nya yang kembali (kepada fitrah) dan sebagai hamba-hamba-Nya yang menang (melawan hawa nafsu). Dan semoga Allah SWT menerima seluruh amali badah kita semua.
DOA
-          Ya Allah yang Maha Pangampun lagi Maha Penyantun, di hari nan mulia ini, kami menghadaMu dengan menyadari kesalahan dan dosa yang pernah kami perbuat. Kami adalah hamba-Mu yang zalim, penuh noda dan dosa. Maka di hari yang fitri ini, ampunilah dosa kami yang zahir maupun batin, besar maupun kecil, sengaja atau tersalah.
-          Ampuni dosa ayah ibu kami, orang yang paling berjasa dalam hidup kami. Mereka yang telah bersusah payah membesarkan kami. Tiada kesenangan yang lebih bernilai bagi mereka kecuali melihat kami dalam keadaan suka cita. Tiada kegelisahan yang paling memilukan mereka kecuali menyaksikan kami dalam kesusahan. Apa yang kami rasakan lebih mereka rasakan.
-          Karena itu Ya Allah, jika seandainya hari ini mereka masih hidup di dunia, panjangkan umur mereka ya Allah, sehatkan jasmani dan rohaninya, mudahkan rezekinya, jadikan ia sebagai hamba-Mu yang kuat dan gemar beribadah agar senantiasa dekat dengan-Mu.
-          Namun, jika seandainya hari ini mereka memang sudah tiada, pergi menghadap-Mu untuk selama-lamanya, ampunilah dosa-dosa mereka Ya Allah, bebaskan ia dari siksa kubur, beri ia kebahagiaan dan ketenangan dalam ridha-Mu.
-          Ya Allah ya Ghaffar, ampuni pula dosa-dosa guru-guru kami, karena mereka kami lebih banyak mengenal ajaran-Mu.
-          Ampuni dosa pemimpin-pemimpin kami, beri petunjuk buat mereka agar konsisten istiqamah menegakkan aturan-Mu di muka bumi ini.
-          Ampuni dosa saudara-saudara kami, hilangkan dalam hati kami penyakit hasad, iri, sombong dendam sehingga kami menjadi umat yang bersatu, saling bantu-membantu bukan membantai, saling membina bukan membinasakan, saling mencintai bukan mencaci maki, dan saling menguatkan baik dalam keadaan senang maupun di kala susah.

Baco Tokhus....