Rabu, Juni 13, 2018

Khutbah Idul Fitri 2018

Puasa, Neraka dan Surga

Oleh: Dr. Muhammad Kosim, MA

فَأَمَّا مَن طَغَى. وَآثَرَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا. فَإِنَّ الْجَحِيمَ هِيَ الْمَأْوَى. وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى. فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى
37. Adapun orang yang melampaui batas, 38. dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, 39. Maka Sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya). 40. dan Adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, 41. Maka Sesungguhnya syurgalah tempat tinggal(nya). (Qs. An-Naziat: 37-41)

PENGHUNI NERAKA
1.      Melampaui Batas
-          Makna Thagha:
-          Mujahid dalam Tafsir al Thabari  mengartikan kata thagha sebagai ‘Asha (bermaksiat),
-          Al-Syaukani: Jawaza al-hadd fi al-kufr wa al-ma’ashi (melampaui batas dalam kekufuran dan kemaksiatan),
-          Ibn Katsir: Tamarrada wa’ata (membangkang dan melampaui batas),
-          al-Maraghi: takabur (bersikap sombong).
-          Sudah menjadi sunnatullah, semua yang tercipta di alam ini memiliki aturan tersendiri sesuai dengan peran dan fungsinya masing-masing. Bumi perputar pada porosnya (rotasi) lalu mengitari matahari (evolusi) secara taratur pada garis edarnya.
-          Begitu pula manusia, diciptakan sebagai hamba Allah (‘abdullah) memiliki aturan-aturan yang telah ditetapkan dalam ajaran Islam. Jika seseorang keluar dari aturan yang telah ditetapkan, maka ia menjadi orang yang melampaui batas.
1)      Melampaui batas terhadap aturan-aturan Allah. Manusia ditetapkan untuk menyembah Allah, tetapi ada yang durhaka; rezekinya di makan tetapi kufur akan nikmatnya, shalat bermalas-malasan, mencari rezeki dengan cara haram: korupsi, menipu, curang dalam timbangan, begitu pula di siang Ramadhan mereka makan dan minum tanpa ada yang menyebabkannya boleh untuk tidak berpuasa secara syarak; memiliki harta tetapi enggan berzakat, semua ini perilaku THAGHA.
2)      Melampaui batas terhadap hubungan sesama manusia.
-          Sesama saudara kandung yang sejak kecil bersama menjadi bermusuhan dan tak saling tegur sapa hanya karena berbeda pendapat, berbedap penghasilan, berbeda nasib peruntungan
لَا يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلَاثِ لَيَالٍ يَلْتَقِيَانِ, فَيُعْرِضُ هَذَا, وَيُعْرِضُ هَذَا, وَخَيْرُهُمَا اَلَّذِي يَبْدَأُ بِالسَّلَامِ
-          "Tidak halal bagi muslim memutuskan persahabatan dengan saudaranya lebih dari tiga malam. Mereka bertemu, lalu seorang berpaling dan lainnya juga berpaling. Yang paling baik di antara keduanya ialah memulai mengucapkan salam. Muttafaq ‘Alaihi.
-          Sejatinya setiap mukmin menciptakan rasa aman bagi orang sekitarnya, setiap muslim mewujudkan hal-hal yang mendatangkan keselamatan bagi sekelilingnya, bukan justru melampaui batas dengan menzalimi orang lain sehingga mereka terancam akibat kehadirannya.
-          Seorang pemimpin dituntut adil dan amanah, tetapi ia khianat dengan memperkaya diri dan/atau orang lain, seperti korupsi, menipu, merakayasa hukum dan sebagainya, mereka pun termasuk orang yang melampaui batas.
-          Seorang suami bertanggungjawab menafkahi istri dan anak-anaknya dengan cara yang halal. Seorang istri tak boleh durhaka pada suaminya selagi tidak bertentangan dengan ketaatan kepada Allah.
لاَ يَنْظُرُ اللهُ إِلَى امْرَأَةٍ لاَ تَشْكُرُ لِزَوْجِهَا وَهِيَ لاَ تَسْتَغْنِيْ عَنْهُ
-          “Allah tidak akan melihat seorang istri yang tidak mauberterimakasih atas kebaikan suaminya padahal ia selalu butuh kepada suaminya” . [HR. An-Nasa'i)
لَوْ كُنْتُ آمُرًا أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ لأَحَدٍ لأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا
-          "Sekiranya aku memerintahkan seseorang untuk sujud kepada lainnya, niscaya akan kuperintahkan seorang istri sujud kepada suaminya" .[HR. At-Tirmidziy dalam As-Sunan (1159), dan lainnya. Hadits ini di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Al-Irwa' (1998)]
-          Orang tua yang dianugerahi anak seharusnya mendidik anak-anaknya agar menajadi shaleh dan tuntuk kepada Allah. Namun jika tidak peduli terhadap pendidikan dan perkembangan ruhani anak-anaknya, orang tua itu telah melampaui batas.
-          Sebaliknya, seorang anak tak boleh durhakan kepada kedua orang tuanya dan kedua mertuanya. Jika orang tua sudah dianggap beban, orang tua disakiti dengan lidah dan perbuatan, orang tua sampai meratap akibat buruknya perilaku seorang anak, maka akan itu juga sudah melampaui batas.
-          Janganlah membuat orang tua merintih dan meratap akibat buruknya perilaku kita kepada mereka.


Renungkanlah pernyataan Imam Adz-Dzahabi dalam kitabnya Al-Kabaair berikut ini:
-          Ibumu telah mengandungmu di dalam perutnya selama sembilan bulan, seolah-olah sembilan tahun.
-          Dia bersusah payah ketika melahirkanmu yang hampir saja menghilangkan nyawanya.
-          Dia telah menyusuimu dari putingnya, dan ia hilangkan rasa kantuknya karena menjagamu.
-          Dia cuci kotoranmu dengan tangan kirinya, dia lebih utamakan dirimu dari padadirinya serta makanannya.
-          Dia jadikan pangkuannya sebagai ayunan bagimu.
-          Dia telah memberikanmu semua kebaikan dan apabila kamu sakit atau mengeluh tampak darinya kesusahan yang luar biasa dan panjang sekali kesedihannya dan dia keluarkan harta untuk membayar dokter yang mengobatimu.
-          Seandainya dipilih antara hidupmu dan kematiannya, maka dia akan meminta supaya kamu hidup dengan suaranya yang paling keras.
-          Betapa banyak kebaikan ibu, sedangkan engkau balas dengan akhlak yang tidak baik.
-          Dia selalu mendo’akanmu dengan taufik, baik secara sembunyi maupun terang-terangan.
-          Tatkala ibumu membutuhkanmu di saat dia sudah tua renta, engkau jadikan dia sebagai barang yang tidak berharga di sisimu.
-          Engkau kenyang dalam keadaan dia lapar.
-          Engkau puas minum dalam keadaan dia kehausan.
-          Engkau mendahulukan berbuat baik kepada istri dan anakmu dari pada ibumu.
-          Engkau lupakan semua kebaikan yang pernah dia perbuat.
-          Berat rasanya atasmu memeliharanya padahal itu adalah urusan yang mudah.
-          Engkau kira ibumu ada di sisimu umurnya panjang padahal umurnya pendek.
-          Engkau tinggalkan padahal dia tidak punya penolong selainmu.
-          Padahal Allah telah melarangmu berkata ‘ah’ dan Allah telah mencelamu dengan celaan yang lembut.
-          Engkau akan disiksa di dunia dengan durhakanya anak-anakmu kepadamu.
-          Allah akan membalas di akhirat dengan dijauhkan dari Allah Rabbul ‘aalamin.
-          (Akan dikatakan kepadanya),
ذَلِكَ بِمَا قَدَّمَتْ يَدَاكَ وَأَنَّ اللَّهَ لَيْسَ بِظَلَّامٍ لِّلْعَبِيدِ
-          “Yang demikian itu, adalah disebabkan perbuatan yang dikerjakan oleh kedua tangan kamu dahulu dan sesungguhnya Allah sekali-kali bukanlah penganiaya hamba-hamba-Nya”. (QS. Al-Hajj : 10)---(Al-Kabaair hal. 53-54, Maktabatush Shoffa, Dar Albaian).
-       بِرُّوا آبَاءَكُمْ يُبِرُّكُمْ أَبْنَاؤُكُمْ
-          Patuhilah orang tua kalian, maka kelak kalian akan ditaati oleh anak kalian.(Tuhaf Al-‘Uqul : 267)
-          Sosok manusia yang melampaui batas itu terhimpun pada pribadi Fir’aun, seperti perintah Allah pada Nabi Musa as:
اذْهَبْ إِلَى فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَى
-          Pergilah kamu kepada Fir'aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas (thagha). (QS. An Nazi’at (79): 17).
2.      Mencintai Dunia.
-          Ahli neraka adalah orang yang mengedepankan kehidupan dunia di atas kepentingan akhirat. Padahal Allah SWT mengingatkan bahwa dunia adalah:
اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرّاً ثُمَّ يَكُونُ حُطَاماً وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِّنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ
Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu; (al-Hadid/57: 20)
-          Orang yang mementingkan kehidupan dunia akan sibuk mengumpulkan harta seakan harta tersebut mengekalkan kehidupannya di dunia ini (Qs. Al-Humazah/104: 2-3).
-          Kekayaan, jabatan dan berbagai kenikmatan dunia mereka rebut dengan menghalalkan segala cara. Maka pertikaian dan permusuhan kerap kali terjadi di tengah-tangah masyarakat.
-          Orang-orang seperti ini menjadi penghuni neraka. Boleh jadi mereka memperoleh kenikmatan dunia, bahkan semakin ia ingkar bertambah sukses pula hidupnya di dunia, namun kehidupan mereka di akhirat kelak pasti sengsara dalam api neraka. Firman-Nya:
فَلَمَّا نَسُواْ مَا ذُكِّرُواْ بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُواْ بِمَا أُوتُواْ أَخَذْنَاهُم بَغْتَةً فَإِذَا هُم مُّبْلِسُونَ
-          Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa (Qs. Al-An’am/6: 44)
-          Ketika dunia telah memperdaya, maka amal seseorang tak kan banyak, ketika ajar menjemputnya ia akan dilemparkan ke neraka, lalu datanglah penyesalan yang tak berguna seraya berharap dengan pekikan:
رَبَّنَا أَبْصَرْنَا وَسَمِعْنَا فَارْجِعْنَا نَعْمَلْ صَالِحاً إِنَّا مُوقِنُونَ
"Ya Tuhan kami, kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikanlah kami (ke dunia), kami akan mengerjakan amal saleh, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang yakin" (Qs. as-Sajadah/32: 12).

-          Kelak di neraka, mereka yang tertipu dengan kehidupan duniawi akan meminta tolong kepada penghuni surga agar diberikan sedikit minuman dan makanan yang berlimpah di surga. Namun apalah daya...
وَنَادَى أَصْحَابُ النَّارِ أَصْحَابَ الْجَنَّةِ أَنْ أَفِيضُواْ عَلَيْنَا مِنَ الْمَاء أَوْ مِمَّا رَزَقَكُمُ اللّهُ قَالُواْ إِنَّ اللّهَ حَرَّمَهُمَا عَلَى الْكَافِرِينَ. الَّذِينَ اتَّخَذُواْ دِينَهُمْ لَهْواً وَلَعِباً وَغَرَّتْهُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا فَالْيَوْمَ نَنسَاهُمْ كَمَا نَسُواْ لِقَاء يَوْمِهِمْ هَـذَا وَمَا كَانُواْ بِآيَاتِنَا يَجْحَدُونَ
50. dan penghuni neraka menyeru penghuni syurga: " Limpahkanlah kepada Kami sedikit air atau makanan yang telah dirizkikan Allah kepadamu". mereka (penghuni surga) menjawab: "Sesungguhnya Allah telah mengharamkan keduanya itu atas orang-orang kafir, 51. (yaitu) orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai main-main dan senda gurau, dan kehidupan dunia telah menipu mereka." Maka pada hari (kiamat) ini, Kami melupakan mereka sebagaimana mereka melupakan Pertemuan mereka dengan hari ini, dan (sebagaimana) mereka selalu mengingkari ayat-ayat kami (al-A’raf/7: 50-51).

-          Bagi orang yang beriman dan bertakwa kepada Allah SWT, dunia berada di dalam genggamannya, bukan di dalam hatinya. Mereka memetik kehidupan dunia hanya semata-mata untuk menuai hasilnya kelak di akhirat.
-          Orang yang THAGHA dan MENGUTAMAKAN DUNIA, tak ada tempat yang layak dan pantas bagi mereka kecuali NERAKA.
فَإِنَّ الْجَحِيمَ هِيَ الْمَأْوَى.
Maka Sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya). (Qs. An-Naziat: 37-41)

PENGHUNI SURGA
1.      Takut pada Kekuasaan Allah.
-           Khauf mengantarkan pada takwa dan merasakan Allah senantiasa hadir dalam setiap keadaan.
-          Rasa takut kepada Allah muncul dari rasa khawatir jika Allah tidak menerima amal ibadah yang tidak ia lakukan. Ia juga takut akan adzab Allah karena dosa kesalahannya yang tidak diampuni sehingga mengantarkannya menjadi ahli neraka. Dengan begitu tak akan muncul rasa sombong dan riya bagi seorang yang rajin beribadah, tak pula ada rasa nyaman dalam melakukan maksiat.
-          Rasa takut itu memicu dan memotivasi dirinya untuk mendekat kepada Allah SWT, sungguh-sungguh dan larut dalam kekhusyukan saat beribadah, lalu menjauhi diri dari perbuatan maksiat.
2.      mengendalikan hawa nafsu.
Jika nafsu tak terkendala, maka firman-Nya:
وَلَوِ اتَّبَعَ الْحَقُّ أَهْوَاءهُمْ لَفَسَدَتِ السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ وَمَن فِيهِنَّ بَلْ أَتَيْنَاهُم بِذِكْرِهِمْ فَهُمْ عَن ذِكْرِهِم مُّعْرِضُونَ
“Andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya. Sebenarnya Kami telah mendatangkan kepada mereka kebanggaan (Al Qur'an) mereka tetapi mereka berpaling dari kebanggaan itu.” (QS. Al Mu'minuun (23):71)
Rif’at Sauqi an-Nawawi, Guru Besar Ilmu Tafsir UIN Syahid Jakarta, menyebut makhluk tertinggi adalah al-insan, lalu malaikat, al-hayawanat, an-nabatat dan al-jamadat.
Namun jika kita menelusuri ayat-ayat Alquran, jika manusia tak mampu mengendalikan hawa nafsunya, ia bisa menjadi hewan, tumbuhan bahkan benda mati.
Hewan:
1.      manusia an’am (seperti binatang ternak), yaitu mereka yang tidak memanfaatkan hati, mata, dan telinganya untuk mengenal tanda-tanda kekuasaan Allah.

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيراً مِّنَ الْجِنِّ وَالإِنسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لاَّ يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لاَّ يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لاَّ يَسْمَعُونَ بِهَا أُوْلَـئِكَ كَالأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُوْلَـئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ
dan Sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. mereka Itulah orang-orang yang lalai. (QS al-A’raaf/179).

2.      Manusia yang memperturutkan hawa nafsunya dan mendustakan ayat-ayat Allah disebut sebagai manusia kalb, yaitu seperti anjing
وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنَاهُ بِهَا وَلَـكِنَّهُ أَخْلَدَ إِلَى الأَرْضِ وَاتَّبَعَ هَوَاهُ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ الْكَلْبِ إِن تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ أَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَث ذَّلِكَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُواْ بِآيَاتِنَا فَاقْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ
dan kalau Kami menghendaki, Sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi Dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, Maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya Dia mengulurkan lidahnya (juga). demikian Itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat kami. Maka Ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir. (QS al-A’raaf/7:  176).
3.      Qird (kera)
4.      Khinzir (babi). Mereka yang fasik, mengetahui tetapi tidak berperilaku seperti apa yang diketahuinya
قُلْ هَلْ أُنَبِّئُكُم بِشَرٍّ مِّن ذَلِكَ مَثُوبَةً عِندَ اللّهِ مَن لَّعَنَهُ اللّهُ وَغَضِبَ عَلَيْهِ وَجَعَلَ مِنْهُمُ الْقِرَدَةَ وَالْخَنَازِيرَ وَعَبَدَ الطَّاغُوتَ أُوْلَـئِكَ شَرٌّ مَّكَاناً وَأَضَلُّ عَن سَوَاء السَّبِيلِ
60. Katakanlah: "Apakah akan aku beritakan kepadamu tentang orang-orang yang lebih buruk pembalasannya dari (orang-orang fasik) itu disisi Allah, Yaitu orang-orang yang dikutuki dan dimurkai Allah, di antara mereka (ada) yang dijadikan kera dan babi dan (orang yang) menyembah thaghut?". mereka itu lebih buruk tempatnya dan lebih tersesat dari jalan yang lurus. (QS al-Maidah/5: 60).

5.      Ankabut (laba-laba): Manusia yang angkuh, merasakan kelebihan yang ia miliki semata-mata hasil kinerjanya atau ia bergantung dan berlindung kepada selain Allah
مَثَلُ الَّذِينَ اتَّخَذُوا مِن دُونِ اللَّهِ أَوْلِيَاء كَمَثَلِ الْعَنكَبُوتِ اتَّخَذَتْ بَيْتاً وَإِنَّ أَوْهَنَ الْبُيُوتِ لَبَيْتُ الْعَنكَبُوتِ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ
41. perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. dan Sesungguhnya rumah yang paling lemah adalah rumah laba-laba kalau mereka mengetahui. (QS al-Ankabut/29: 41). 
6.      Himar (keledai), Manusia yang diberi petunjuk berupa kitab Alquran, tetapi tidak dijadikannya sebagai pedoman hidup sehingga kita tersebut tidak memberi efek positif baginya.

مَثَلُ الَّذِينَ حُمِّلُوا التَّوْرَاةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوهَا كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَاراً بِئْسَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِ اللَّهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ
5. perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat, kemudian mereka tiada memikulnya[1474] adalah seperti keledai yang membawa Kitab-Kitab yang tebal. Amatlah buruknya perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang zalim. (QS al-Jumu’ah/62: 5).

Tumbuhan:
Ada pula manusia seperti kayu yang tersandar (khasyb musannadah) yang lebih mengedepankan penampilan, keelokan tubuh, dan kemewahan dunia tetapi ruhani dan otaknya kosong dari kebenaran, hanya pandai berbicara dan bersilat lidah.



وَإِذَا رَأَيْتَهُمْ تُعْجِبُكَ أَجْسَامُهُمْ وَإِن يَقُولُوا تَسْمَعْ لِقَوْلِهِمْ كَأَنَّهُمْ خُشُبٌ مُّسَنَّدَةٌ يَحْسَبُونَ كُلَّ صَيْحَةٍ عَلَيْهِمْ هُمُ الْعَدُوُّ فَاحْذَرْهُمْ قَاتَلَهُمُ اللَّهُ أَنَّى يُؤْفَكُونَ
4. dan apabila kamu melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu kagum. dan jika mereka berkata kamu mendengarkan Perkataan mereka. mereka adalah seakan-akan kayu yang tersandar mereka mengira bahwa tiap-tiap teriakan yang keras ditujukan kepada mereka. mereka Itulah musuh (yang sebenarnya) Maka waspadalah terhadap mereka; semoga Allah membinasakan mereka. Bagaimanakah mereka sampai dipalingkan (dari kebenaran)? (QS al-Munafiqun/63: 4).

Batu Hitam
7.       Hijarah (batu): Manusia yang menolak dinasehati dan tidak menerima kebenaran Ilahi, hatinya keras.
ثُمَّ قَسَتْ قُلُوبُكُم مِّن بَعْدِ ذَلِكَ فَهِيَ كَالْحِجَارَةِ أَوْ أَشَدُّ قَسْوَةً وَإِنَّ مِنَ الْحِجَارَةِ لَمَا يَتَفَجَّرُ مِنْهُ الأَنْهَارُ وَإِنَّ مِنْهَا لَمَا يَشَّقَّقُ فَيَخْرُجُ مِنْهُ الْمَاء وَإِنَّ مِنْهَا لَمَا يَهْبِطُ مِنْ خَشْيَةِ اللّهِ وَمَا اللّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ

74. kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal diantara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai dari padanya dan diantaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air dari padanya dan diantaranya sungguh ada yang meluncur jatuh, karena takut kepada Allah. dan Allah sekali-sekali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan. (QS al-Baqarah/2: 74).

Jika khauf tertanam dalam hati, hawa nafsu dapat terkendalikan, maka:
فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى
Maka sesungguhnya syurgalah tempat tinggal(nya). (Qs. An-Naziat: 37-41)

Ramadhan hadir untuk menuntun kita menjadi ahli surga dan terhindar dari neraka.
-          Kita melaksanakan berbagai ibadah sunat agar kita tetap pada hukum-hukum Allah, tidak menjadi orang yang melampaui batas
-          Jangankan yang haram, yang halal pun berupa makanan, minuman dan istri/suami yang halal untuk kita, selama puasa tidak boleh untuk menikmatinya. Ini dilakukan agar kita mengutamakan akhirat dari pada dunia.
-          Kita tetap jujur berpuasa, mesti kita bisa sembunyi dari banyak orang untuk makan dan minum, tapi kita takut pada Allah yang selalu mengawasi dan mengetahui setiap perbuatan kita.
-          Puasa juga hadir untuk melatih jiwa atau nafsu agar dapat terkendali.
Hamka berkata: Puasa mengendalikan nafsu perut dan kemaluan; dua sumber syahwat yang banyak membinasakan manusia kepada kesesatan.
جَعَلَنَا اللهُ وَإِيَّاكُمْ مِنَ الْعَائِدِيْنَ الْفَائِزِيْنَ، وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ
Semoga Allah SWT menjadikan kita semua sebagai hamba-hamba-Nya yang kembali (kepada fitrah) dan sebagai hamba-hamba-Nya yang menang (melawan hawa nafsu). Dan semoga Allah SWT menerima seluruh amali badah kita semua.
DOA
-          Ya Allah yang Maha Pangampun lagi Maha Penyantun, di hari nan mulia ini, kami menghadaMu dengan menyadari kesalahan dan dosa yang pernah kami perbuat. Kami adalah hamba-Mu yang zalim, penuh noda dan dosa. Maka di hari yang fitri ini, ampunilah dosa kami yang zahir maupun batin, besar maupun kecil, sengaja atau tersalah.
-          Ampuni dosa ayah ibu kami, orang yang paling berjasa dalam hidup kami. Mereka yang telah bersusah payah membesarkan kami. Tiada kesenangan yang lebih bernilai bagi mereka kecuali melihat kami dalam keadaan suka cita. Tiada kegelisahan yang paling memilukan mereka kecuali menyaksikan kami dalam kesusahan. Apa yang kami rasakan lebih mereka rasakan.
-          Karena itu Ya Allah, jika seandainya hari ini mereka masih hidup di dunia, panjangkan umur mereka ya Allah, sehatkan jasmani dan rohaninya, mudahkan rezekinya, jadikan ia sebagai hamba-Mu yang kuat dan gemar beribadah agar senantiasa dekat dengan-Mu.
-          Namun, jika seandainya hari ini mereka memang sudah tiada, pergi menghadap-Mu untuk selama-lamanya, ampunilah dosa-dosa mereka Ya Allah, bebaskan ia dari siksa kubur, beri ia kebahagiaan dan ketenangan dalam ridha-Mu.
-          Ya Allah ya Ghaffar, ampuni pula dosa-dosa guru-guru kami, karena mereka kami lebih banyak mengenal ajaran-Mu.
-          Ampuni dosa pemimpin-pemimpin kami, beri petunjuk buat mereka agar konsisten istiqamah menegakkan aturan-Mu di muka bumi ini.
-          Ampuni dosa saudara-saudara kami, hilangkan dalam hati kami penyakit hasad, iri, sombong dendam sehingga kami menjadi umat yang bersatu, saling bantu-membantu bukan membantai, saling membina bukan membinasakan, saling mencintai bukan mencaci maki, dan saling menguatkan baik dalam keadaan senang maupun di kala susah.

Baco Tokhus....

Kamis, Maret 01, 2018

Panduan Pengembangan Bahan Ajar






BAB I
PENDAHULUAN

Direktorat Pembinaan SMA, Depdikbud, Panduan Pengembangan Bahan Ajar, 2008

A.   Latar Belakang

Sebagai konsekuensi atas terbitnya Undang-Undang Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Peraturan Pemerintah (PP) nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP), Pemerintah, dalam hal ini Menteri Pendidikan Nasional, telah menerbitkan berbagai peraturan agar penyelenggaraan pendidikan di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) paling tidak dapat memenuhi standar minimal tertentu. Berbagai standar tersebut adalah: (1) standar isi, (2) standar kompetensi lulusan, (3) standar proses, (4) standar pendidik dan tenaga kependidikan, (5) standar sarana dan prasarana, (6) standar pengelolaan, (7) standar pembiayaan, dan (8) standar penilaian pendidikan.

Dalam pencapaian standar isi (SI) yang memuat standar kompetensi (SK) dan kompetensi dasar (KD) yang harus dicapai oleh peserta didik setelah melalui pembelajaran dalam jenjang dan waktu tertentu, sehingga pada gilirannya mencapai standar kompetensi lulusan (SKL) setelah menyelesaikan pembelajaran pada satuan pendidikan tertentu secara tuntas. Agar peserta didik dapat mencapai SK, KD, maupun SKL yang diharapkan, perlu didukung oleh berbagai standar lainnya, antara lain standar proses dan standar pendidik dan tenaga kependidikan.

Baco Tokhus....

Selasa, Februari 27, 2018

Pendidikan yang Memanusiakan

Oleh: Muhammad Kosim

Terbit di Koran Singgalang, 5 Mei 2015

Berbagi kasus penyimpangan moral, tindak kriminal bahkan perilaku yang mengancam integritas bangsa senantiasa mengancam dan menghambat kemajuan negeri ini. Kasus korupsi masih belum berhenti. Narkoba merenggut masa depan remaja. Etos kerja lemah, daya saing rendah, tetapi caci maki di sana sini. Fenomena masyarakat yang tak mencerminkan sebagai manusia beragama (religius) dan berbudaya Pancasila.

Masalah ini sudah lama disadari oleh banyak pihak, terutama Presiden RI, Ir. Joko Widodo. Di awal kampanye-nya, ia memomulerkan istilah “revolusi mental.” Istilah ini muncul sebagai reaksi terhadap fenomena masyarakat yang mengalami gangguan bahkan penyakit mental. Ini menunjukkan bahwa banyak di antara manusia yang kehilangan esensi dan jati dirinya.  

Sayang, lebih enam bulan kepemimpinnya, belum jelas bentuk penerapan dari revolusi mental yang ia dengungkan. Malah Kurikulum 2013 yang berorientasi pada pembinaan mental justru dihentikan oleh Menteri Dikbud Dikdasmen yang sekaligus mantan tim suksesnya, Anies Baswedan.

Baco Tokhus....

Hakikat Manusia Menurut Alqur’an

Oleh: Muhammad Kosim
Terbit di Koran Padang Ekspres, 30 November 2012

Manusia adalah makhluk yang unik, sehingga kajian tentang hakikat manusia itu tak pernah berakhir. Berbagai disiplin ilmu selalu menggali dan mengkaji hakikat manusia itu sendiri, sesuai dengan corak keilmuannya. Alquran juga banyak memberikan informasi tentang manusia. Salah satu di antaranya dapat dilihat dari istilah-istilah manusia yang digunakan Alquran.

Menurut Quraish Shihab (1998: 275), ada  tiga  kata  yang digunakan Al-Quran menyebut manusia:  1) kata yang terdiri dari huruf alif, nun, dan sin, semacam insān, ins, nās, atau unas; 2) kata basyar; dan 3) kata Bani Adam, dan dzuriyat AdamJika ditelusuri ayat-ayat Alquran yang menggunakan istilah atau kata di atas, maka dapat dipahami gambaran tentang hakikat manusia dengan kecenderungan sifat dan kedudukannya.

Baco Tokhus....

Senin, Oktober 12, 2015

Doa untuk Negeri



Oleh: Muhammad Kosim
(Terbit di Harian Umum Singgalang, 2 Oktober 2015)



Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdoa: "Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini, negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman diantara mereka kepada Allah dan hari kemudian... (Qs. Albaqarah/2: 126)
Ayat di atas menggambarkan salah satu doa Nabi Ibrahim As agar negeri yang tandus, kering tanpa pepohonan yang ditempati oleh anak istri dan keturunannya menjadi negeri yang aman sentosa (bebas dari berbagai kerusakan dan bencana, aman, tenteram dan sejahtera), berlimpah rezeki dan diridhai Allah SWT. Itulah negeri yang kita kenal hari ini sebagai Makkah al-Mukarramah.
Doa itu diijabah oleh Allah SWT. Mekah sebagai kota yang dirindukan. Meski tetap dengan wajah tandus dengan hamparan bongkahan batu-batu besar, tetapi Mekah menjadi negeri yang tak pernah sunyi sesaat pun dari ziarah umat Islam dari seantero dunia. Lautan manusia yang tawaf di sekeliling Ka’bah, terutama di musim haji, tetap dalam kondisi aman dan menghasilkan rezeki yang berlimpah bagi penduduk Mekah. 
Lalu bagaimana dengan kondisi bangsa kita, negara Indonesia? Sudahkah bangsa Indonesia yang dihuni oleh mayoritas umat Islam yang selalu bersalawat kepada Nabi Muhammad dan Nabi Ibrahim ini mampu mewujudkan negeri yang aman sentosa dengan limpahan rezeki dan ridha Allah?

Baco Tokhus....

Selasa, Mei 12, 2015

Pemikiran Pendidikan Islam Inyiak Canduang



GAGASAN SYEKH SULAIMAN AL-RASULI
TENTANG PENDIDIKAN ISLAM DAN PENERAPANNYA PADA
MADRASAH TARBIYAH ISLAMIYAH DI SUMATERA BARAT
Oleh: Muhammad Kosim

(Terbit Jurnal Pendidikan Islam ”at-Tarbiyah” Volume V Nomor 2, Juli 2014, 
PPs. IAIN IB Padang)


PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Syekh Sulaiman al-Rasuli, juga dikenal dengan sebutan Inyiak Canduang, merupakan ulama Minangkabau terkemuka di kalangan kaum tua yang berperan aktif dalam mempertahankan I’tiqad Ahl al-Sunnah wa al-Jamā’ah dan berpegang pada Mazhab Syafi’i; suatu pemahaman yang banyak hal bertentangan dengan ulama kaum muda. Ketika kaum muda melakukan perubahan sistem pendidikan dari halaqah menjadi klasikal, sementara ulama kaum tua lainnya masih mempertahankan sistem pendidikan halaqah di surau, Syekh Sulaiman justru merestui perubahan tersebut, atas dorongan ulama senior yang juga sahabatnya, Syekh Abbas Qadhi Ladang Lawas tahun 1926 (Bahruddin Rusli, 1978: 33).
Dua tahun kemudian, 1928, langkah Syekh Sulaiman al-Rasuli diikuti oleh ulama sepaham dengannya, seperti Syekh Abdul Wahid al-Shalihi Tabek Gadang di Payakumbuh, Syekh Muhammad Jamil Jaho di Padang Panjang, Syekh Arifin di Batu Hampar Payakumbuh, dan lain-lain (Chairusdi, 1999: 50-51). Dalam pertemuan di tahun tersebut, lahirlah Persatuan Madrasah Tarbiyah Islamiyah (PMTI) sebagai organisasi yang bertanggung jawab untuk membina, memperjuangkan, dan mengembangkan MTI-MTI yang ada. Perkembangan selanjutnya, PMTI tidak hanya sebagai organisasi yang mengurus madrasah an sich, akan tetapi mampu mempersatukan dan menghimpun segenap ulama tradisional dan bergerak di bidang sosial lainnya. PMTI pun berubah menjadi PTI (Persatuan Tarbiyah Islamiyah) di tahun 1930 dan singkatannya diubah lagi menjadi PERTI sekitar tahun 1937 (Majalah Soearti No. 8 Th. I/Januari 1938 M).

Baco Tokhus....

Senin, Mei 26, 2014

Hentikan Kekerasan pada Anak

Oleh: Muhammad Kosim

(Terbit di Harian Singgalang, 23 Mei 2014)

Firman Allah SWT: Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu... (Qs. Ali Imran/3: 159)

Islam mengajarkan agar bersifat lemah lembut kepada siapa saja, termasuk terhadap anak sendiri. Akan tetapi, berbagai kasus kekerasan terhadap anak masih saja kerap terdengar di media massa. Entah bagaimana potret generasi muda bangsa ini di hari mendatang jika kekerasan terhadap anak tak dihentikan. Sebab, anak adalah amanah, generasi penerus dan penentu wajah peradaban bangsa di hari esok.

Salah satu alasan melakukan kekerasan yang sering dikemukakan adalah demi kebaikan si anak. Bahkan bagi sebagian orang, kekerasan menjadi salah satu metode dalam pendidikan anak.
Jika telusuri pola pendidikan Nabi SAW, tak satu pun hadis yang ditemukan tentang dibolehkannya kekerasan terhadap anak. Justru sebaliknya, Nabi SAW mencontohkan kasih sayang yang demikian mendalam kepada anak-anak.

Baco Tokhus....

Sabtu, April 26, 2014

Pendidikan Anak Saleh di Sekolah

 

Oleh: Muhammad Kosim
(Terbit di Harian Singgalang, 25 April 2014)

Setiap orang tua yang mukmin pasti menginginkan anak yang saleh. Bahkan khalilullah, Nabi Ibrahim a.s. sendiri bermunjat kepada Allah SWT: "Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh (Qs. Ash-Shaaffat/37: 100).
Kemampuan orang tua untuk mendidik anaknya menjadi saleh tentulah terbatas. Karena itu, orang tua juga memberi amanah kepada guru di sekolah untuk dapat mewujudkan harapan tersebut. Selaku penerima amanah, guru di sekolah sejatinya memiliki program yang mendukung untuk terbentuknya kepribadian peserta didik yang saleh.
Di antara program yang patut dilakukan, dapat merujuk pada surat Ali Imran/3: 113-114. Dalam ayat ini, disebutkan ada tujuh karakter hamba yang saleh. Ketujuh karakter itu harus dididik dan dibiasakan oleh orang tua di rumah, termasuk guru di lingkungan sekolah.

Baco Tokhus....

Sikap Menerima Jabatan; Antara Suka dan Duka

Oleh: Muhammad Kosim
Kolumnis, tinggal di Padang-(Terbit di Padang Ekspres, 18 April 2014)

Setiap kalian adalah pemimpin dan tiap kalian mempunyai tanggung jawab terhadap yang di pimpinnya (HR. Abu Daud).

Pemilu calon legislatif telah usai. Meskipun hasilya belum diumumkan secara resmi oleh KPU, akan tetapi wajah para calon legislatif mulai tampak; ada yang bersedih ada pula berseri-seri.
Bagi yang merasa kalah, tentulah memberi pengaruh pada psikologinya. Ada yang mampu mengendalikan diri sehingga tidak tampak perubahan negatif. Bahkan bagi mereka, “kekalahan adalah keberhasilan yang tertunda.” Kekalahan adalah pil pahit yang bisa diolah menjadi obat berupa motivasi untuk berbuat yang lebih baik. Ia pelajari titik kelemahannya lalu bertekad bangkit untuk menggapai kesuksesan di masa mendatang.


Sementara yang tidak memiliki kepribadian yang kuat, kekalahan itu akan mengakibatkan guncangan batin. Sikapnya tidak terkontrol. Membenci diri sendiri juga orang lain. Ada yang malu dan takut secara berlebihan sehingga cenderung mengasingkan diri. Ada pula yang kehilangan rasa malu sehingga perilakunya menimbulkan keresahan bagi banyak orang. Pendeknya, mereka mengalami gangguan jiwa (neurosis), bahkan bisa mengidap penyakit jiwa (psikosis).

Baco Tokhus....

Senin, April 07, 2014

Membumikan al-Qur'an di Sekolah

Oleh: Muhammad Kosim
–(Kasi PAI pada Pendidikan Menengah Bidang PAKIS Kanwil Kemenag Sumbar)–

Terbit Harian Singgalang, 21 Maret 2014

Mungkinkah seseorang dikatakan taat beragama jika ia tidak dekat dengan kitab sucinya? Layakkah seorang peserta didik disebut beriman dan bertakwa jika tidak mengenal ajaran kitab suci agamanya?Hanya orang yang berpegang teguh pada kitab sucinyalah yang akan mampu mengantarkan seseorang menjadi pribadi yang taat beragama. Dengan berpedoman pada kitab suci maka akan menuntunnya taat menjalankan agama dan merekalah yang disebut sebagai manusia yang beriman, bertakwa dan berakhlak mulia.

Rumusan kalimat orang beriman, bertakwa dan berakhlak mulia sesungguhnya menjadi indikator utama dalam tujuan pendidikan nasional (pasal 3 UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003).

Hal ini juga relevan dengan kompetensi setiap lulusan yang diinginkan baik di tingkat dasar maupun menengah, pada aspek sikap, memiliki perilaku yang mencerminkan sikap orang beriman, berakhlak mulia, berilmu, percaya diri, dan bertanggung jawab dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam. (Permendikbud No. 54 Tahun 2013 tentang SKL Pendidikan Dasar dan Menengah).

Tujuan Sisdiknas ibarat gelas kosong yang bisa dimuat dengan nilai-nilai luhur, termasuk menjadi manusia yang beriman dan bertakwa. Maka setiap agama di Indonesia, mengisi gelas kosong itu sesuai ajaran masing-masing sehingga terisi penuh sesuai corak dan warna agama itu sendiri.
Dalam Islam, seorang pemeluknya tidaklah dikatakan bisa taat beragama jika tidak memahami dan mengamalkan Alquran. Mengamalkan Alquran tentu tidak hanya terbatas belajar membacanya saja. Akan tetapi, aktivitas membaca hanyalah tahap awal untuk mengamalkan Alquran.

Setelah membaca, setiap Muslim harus berupaya untuk memahami lalu mengamalkannya. Di antaranya mesti ada ayat-ayat yang dihafal. Di samping itu, ada proses penerjemahan untuk memahaminya serta menghayati makna yang terkandung untuk memotivasi diri mengamalkannya.
Tahap tertinggi adalah mengajarkan Alquran tersebut kepada orang lain. Karena itu, Rasulullah SAW mengingatkan: “Sebaik-baik di antara kamu adalah orang yang mempelajari Alquran dan mengajarkannya.”

Karena itu, perlu membumikan Alquran di sekolah; khususnya bagi peserta didik yang berama Islam. Membumikan Alquran yang dimaksud adalah menjadikan ayat-ayat Alquran sebagai bagian yang integral dalam proses pendidikan, baik diwujudkan dalam kegiatan intrakurikuler, ekstrakurikuler, maupun kultur sekolah.

Siswa Muslim harus didekatkan dengan kitab sucinya sehingga mereka cinta dan gemar mempelajari dan mengamalkannya.

Selama ini ada kesan orang tua dan sekolah hanya mengajarkan anak-anaknya membaca Alquran.
Mulai di Taman Pendidikan Alquran (TPQ) atau di sekolah digalakkan Tulis Baca Alquran (BTQ). Orang tua dan sekolah lebih memotivasi anak didiknya untuk memahami berbagai ilmu pengetahuan, tetapi pemahaman terhadap ayat-ayat Alquran nyaris diabaikan.

Anehnya, kegiatan itu pun lebih didominasi oleh siswa tingkat SD dimana TPQ dan MDTA (Madrasah Diniyah Takmiliyah Awaliyah) masih banyak diminati. Tetapi ketika mereka sudah menjadi siswa SMP dan SMA, mereka tak lagi ke surau belajar di TPQ atau MDTW (wustha) dan MDTU (ulya).

Perda dan Pergub PQ Diabaikan
 

Di Sumatera Barat sendiri, ada kesadaran tinggi dari pemerintah daerah agar siswa di sekolah mempelajari Alquran secara khusus dan lebih mendalam. Apalagi kultur masyararakat Minangkabau memiliki falsafat adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah (ABS-SBK).
 

Maka lahirlah Peraturan Daerah Sumatera Barat No. 3/2007 tentang Pendidikan Alquran (PQ). Perda itu pun ditindaklanjuti dengan Peraturan Gubernur Sumatera Barat No. 70 Tahun 2010 tentang Kurikulum Pendidikan al Quran pada SD, SMP, SMA/SMK dan Pergub No. 71/2010 tentang Petunjuk Pelaksanaannya.
 

Dalam Perda dan Pergub tersebut, diinginkan agar PQ dijadikan sebagai mata pelajaran muatan lokal yang diajarkan dua jam tatap muka setiap minggu baik di SD, SMP, maupun SMA/SMK. Namun setelah lebih lima tahun berjalan, perda dan pergub tersebut hari ini seakan mandul, karena beberapa sekolah mulai meninggalkannya.
 

Pemerintah daerah pun terkesan mengabaikannya karena belum ada upaya yang sungguh-sungguh untuk menerapkanya. Berbagai alasan pun muncul. Ada yang menyebut muatan lokal ini tak lagi bisa diterapkan pada kurikulum 2013.
 

Padahal, dalam Permendikbud No. 81A Tahun 2013 tentang Implementasi Kurikulum disebutkan muatan lokal yang berlaku untuk seluruh wilayah provinsi ditetapkan dengan peraturan gubernur. Begitu pula halnya, apabila muatan lokal yang berlaku untuk seluruh wilayah kabupaten/kota ditetapkan dengan peraturan bupati/walikota.
 

Hingga saat ini, satu-satunya muatan lokal yang memiliki Pergub adalah Pendidikan Alquran.
Dalam kurikulum 2013, memang ada muatan lokal yang sifatnya terintegrasi pada mata pelajaran pendidikan jasmani dan rohani, seni bvudaya dan prakarya; sebagian konten/materinya disusun oleh pusat dan sebagiannya disusun daerah masing-masing.
 

Akan tetapi ada muatan lokal yang berdiri sendiri, dilaksanakan dua jam setiap minggu, seperti yang dijelaskan dalam Lampiran II, Permendikbud No. 81A/2010.
 

Hanya saja harus memiliki peraturan gubernur jika diterapkan di tingkat wilayah provinsi, dan peraturan bupati/walikota. Selain itu, biaya pelaksanaannya harus ditanggung daerah.
 

 Sejatinya, pemprov, pemkab serta pemko, konsisten menerapkan perda dan pergub tentang pendidikan Alquran tersebut sebagai upaya membumikan Alquran di sekolah sehingga terbentuk peserta didik yang beriman, bertakwa dan berakhlak mulia (baca: taat beragama).
 

Begitu juga dewan legislatif, turut bertanggungjawab mengawasi jalan tidaknya pergub dan perda tersebut.
 

Pergub yang ada harusnya direvisi sesuai dengan tuntutan kurikulum 2013, sebab Pergub yang lama masih memiliki pola standar kompetensi (SK) dan kompetensi sasar (KD) karena disusun tahun 2010.
Adapun sertifikasi guru, seharusnya bisa dikoordinasikan dengan Kementerian Agama karena pendidikan Alquran adalah bagian dari aspek Pendidikan Agama Islam sehingga bisa diajarkan oleh guru agama.
 

Mendidik peserta didik memahami dan mengamalkan Alquran, tentu tidaklah memadai dengan pendidikan Alquran yang diajarkan sebagai mata pelajaran muatan lokal saja daam bentuk kegiatan intrakurikuler. Tetapi perlu dilakukan kegiatan-kegiatan lain yang dapat mendidik peserta didik cinta dengan Alquran.
 

Dalam kegiatan ekstrakurikuler, misalnya, sekolah bisa melakukan kegiatan Tahfizh Alquran lalu memberi reward kepada peserta didik yang hafal sesuai target minimal yang dilakukan sekolah.
Pemerintah Kota Padang, misalnya, di tahun ini akan memberi reward kepada siswa SD yang hafal tiga juz, boleh memilih SMP favorit di Padang tanpa tes. Siswa SMP yang hafal 4 juz, bebas memilih SMA, dan siswa SMA/SMK hafal lima juz masuk perguruan tinggi tertentu (yang telah bekerjasama) tanpa tes pula.
 

Reward kepada siswa yang hafal beberapa surat Alquran sesuai yang ditargetkan sekolah juga bisa dilakukan dengan cara mengadakan wisuda tahfizh Alquran.
 

Di akhir tahun kelulusan, siswa yang hafal Alquran itu diwisuda dan disaksikan orang tuanya. Tentu suatu kebanggaan tersendiri sekaligus motivasi bagi siswa-siswa lain.
 

Untuk membumikan Alquran di sekolah, tidak cukup hanya sekedar menghafal, tetapi perlu pula pemahaman yang benar. Maka sekolah juga bisa membentuk kelompok studi kajian Alquran sesuai dengan tingkat perkembangan pemikiran peserta didik.
 

Kelompok ini bisa difasilitas dalam kegiatan rohis (rohani Islam) dengan membentuk mentoring lalu materi/tema yang diajarkan berdasarkan pada ayat-ayat tertentu. Semacam kajian tafsir maudhu’iy.
Masih banyak ide kreatif lainnya yang patut dilakukan di sekolah dalam rangka membumikan Alquran. Hal ini sangat relevan dilakukan mengingat kewajiban setiap satuan pendidikan untuk melahirkan peserta didik yang beriman dan bertakwa serta berakhlak mulia. (*)

Baco Tokhus....